Kembali nya kamu bagaikan indah yang teramat
Jawaban atas doa pada sang Kuasa
Namun maaf tak akan lagi aku yang dulu
Luka lalu belum kering, apalagi hilang
Biar waktu yang menjawab
Biar waktu yang menyadarkan
Kita tetap pada jalan masing-masing
Aku dengan hidupku, pun kamu begitu
Kita hanyalah dua yang tak bisa satu
Saling sapa nampaknya cukup
Kita hanyalah asing yang terikat kenang
Kembalimu bukan berarti aku mau
Sapa ku bukan berarti sebuah maaf
Kamu memang indah
Tapi tidak untuk saat ini
Biar aku gapai mimpiku dulu
Aku akan kembali, aku berjanji
Kembali dengan hati yang sama
Dengan perasaan yang tetap utuh
Untukmu..
Namun tidak saat ini
Mari kita berjuang masing-masing
Tak perlu kau datang kembali saat ini
Akan ada hari untuk kau dan aku
Namun biarlah luka ini terhapus oleh waktu
Percayalah, kau tetap bagian dari diriku
Jumat, 17 April 2020
Jumat, 27 Maret 2020
Bahkan Sebelum Kita Bertemu
Aku tak
pernah setengah hati dalam mencinta. Kau kucinta, dan kau harus paham itu. Aku
kan menemani kamu berjuang, aku kan menemani kamu berjalan. Aku tahu, pundakmu
kini berat. Banyak tanggung jawab yang dilimpahkan padamu. Tenang saja,
kupingku senantiasa hadir untukmu. Ragaku duapuluh empat jam disampingmu.
Aku hanya
ingin menjadi sesuatu yang kau cinta. Menjadi wanita tempatmu berlabuh. Menjadi
sosok yang senantiasa menenangkan gundahmu, melepas penatmu, dan mengukir
senyum di bibirmu. Aku rumahmu, dan hanya kamu yang memegang kunci itu.
Aku bukan
wanita sempurna. Aku jauh dari kata sempurna. Namun aku kan menyempurnakanmu.
Separuh hidupku kan mengabdi untukmu. Akan selalu dibuat kamu bahagia, apapun
kan ku usahakan.
Kita bisa
merubah dunia dengan cinta. Cukup genggaman tangan dan keyakinan pada hati.
Kita mampu berkolaborasi menciptakan keindahan. Kita kan melukis senyum pada
dunia. Aku dan kamu, dua insan yang sedang dimabuk cinta. Dengan cinta kita
berkarya.
Aku
mencintaimu jauh sebelum kita bertemu. Aku menyayangimu jauh sebelum raga dan
hati bersatu. Aku akan menjaga kesucian ini, untukmu. Akan kuusahakan yang
terbaik untuk masa depan kita.
Dan bila
suatu saat kamu dan aku dipertemukan oleh-Nya, kumohon bawalah dirimu dan
segenap hatimu untuk mencintaiku. Aku punya banyak mimpi untuk kita. Jauh
sebelum kita berjumpa, aku telah merancang berjuta mimpi untuk kita. Segelanya
tentang kita, dan mereka. Karena aku yakin, bahwa sejatinya hidup bukan hanya
tentang aku dan kamu, namun juga mereka.
Jumat, 28 Februari 2020
Tak Lagi Percaya
Sekarang aku percaya bahkan benar-benar percaya bahwa tidak
ada yang tulus. Dia sama saja dengan segelintir orang dengan kepentingan
masing-masing. Orang yang sangat kupercaya tak menjadi satu diantara mereka
justru menjadi satu orang yang mencipta trauma paling dalam.
Bahkan sampai kini
akupun berusaha menepis segala duga itu. Namun nyatanya memang begitu. Ia hanya
datang untuk dirinya. Bukan karena ketulusan. Ah persetan dengan jabatan.
Aku membenci, bahkan sangat membenci hal ini. Mungkin memang
aku belum terbiasa dengan dunia kampus yang bisa dibilang gila jabatan ini. Tak
adakah orang yang benar tulus?
Kukira semua akan baik-baik saja dengan kita yang tak pernah mempermasalahkan beda. Kukira surabaya kan menjadi saksi bahwa ada beda yang terabaikan.
Kukira semua akan baik-baik saja dengan kita yang tak pernah mempermasalahkan beda. Kukira surabaya kan menjadi saksi bahwa ada beda yang terabaikan.
Kukira selama ini dia tulus menyediakan kupingnya untuk
mendengar segala resahku. Kupikir dia menganggap aku sebagai adik yang perlu
bantunya sehingga dengan sabar ia berusaha selalu hadir ditengah hiruk pikuk
kota ini. Aku terkecoh dengan segala baiknya.
Sungguh aku tak ingin membenci siapapun, termasuk dia.
Bagaimana bisa aku membenci seseorang yang sudah sangat kupercaya? Aku tak
mampu. Mungkin akan kusimpan kecewa ini, hanya untukku.
Ditulis dini hari dengan luka dalam.
Minggu, 23 Februari 2020
Cerita Pertama
Setelah sekan lama aku
menutup hati kepada setiap lelaki yang datang, kini aku menemukan sosokmu pada
jiwa yang lain. Pada lelaki yang belum kukenal lama, namun telah meruntuhkan
hati pada penjagaan rasa tentangmu. Ia yang perlahan mengetuk hatiku dengan kesederhanaannya.
Hatinya yang tulus, raganya yang tak pantang menyerah, dan tuturnya yang lembut
telah mengetuk pintu hati ini.
Dia lelaki yang akan
menggantikan namamu pada setiap tulisanku. Suatu saat akan kukenalkan kamu
dengan dia. Meskipun untuk saat ini aku masih melihat jiwamu pada jiwanya.
Namun suatu saat kupastikan ia kan mengganti sosokmu yang dulu kuyakini tak
tergantikan.
Akan kuceritakan padamu
bagaimana ia sehingga mampu meluluhkan hati yang keras ini. Nampaknya sosok ini
yang pernah kau cemburui dahulu saat masih bersamaku. Hahaha lucu bila diingat.
Bagaimana kamu pernah merasa sakit hati tatkala aku lebih memilih mendengarkan
curhatnya daripada mengangkat teleponmu.
Tentunya kau tahu
bagaimana batunya diriku, terlebih masalah hati. Dan tentunya ini bukan caraku
untuk membalas segala sakit yang kamu buat. Kau pasti tahu aku tak pernah
sejahat itu. Kini biarlah aku mencoba untuk melepaskan segala bayang tentangmu,
akan kulukis bahagiaku bersamanya. Lelaki yang kan kutemani dalam berjuang,
menggantikan sosokmu.
Sabtu, 15 Februari 2020
Tak Akan Bisa
"Tak akan bisa sungguh tak bisa, sekeras apapun ku tak bisa"
Memang kita tengah berjarak, namun jeda ini tak mengurangi sedikitpun rasa. Rasa ini begitu utuh, sempurna.
Tengah malam selalu membuat rindu semakin menjadi. Teringat kamu yang selalu minta dibangunkan pukul tiga, menasehati aku yang keras kepala, pun merancang masa depan bersama. Mungkin begitu candu.
Kau tahu betapa lara tatkala aku melihat perempuanmu itu? Aku tak bisa. Sekeras apapun aku ingin berbahagia atas bahagiamu itu, namun ini sungguh sulit. Sudah begitu keras aku ingin melupa, namun semakin aku berusaha semakin terjatuh pula.
Segeralah kembali. Kumenanti.
Jumat, 14 Februari 2020
Akan Kuceritakan Padamu
Aku belum siap membuka hati, pun tidak ingin menutup hati. Namun yang jelas luka lama itu masih membekas.
-Begitu Dalamnya-
Aku tak pernah menyesali hadirmu. Tiga tahun dengan proses yang begitu hebat, tak mungkin bisa terhapus begitu cepat. Namun aku sudah meng-ikhlas-kanmu. Biarlah, ikatan ini sudah lepas.
-Hancur-
Nampaknya ada hati baru yang tengah aku jelajahi. Oh bukan menjelajahi. Berkenalan lebih tepatnya. Aku sedang berkenalan dengan hati baru, dengan banyaknya beda. Tentu ini tak mudah.
Tapi tidak akan secepat itu ku berikan hati. Sudah kucoba, tapi tak mampu. Kupastikan tak ada hati yang terluka lagi. Entah hatinya, pun hatiku. Luka yang kamu cipta belum mengering, apalagi hilang. Tentu aku tak ingin mencipta luka untuk diriku ataupun dirinya.
Lelaki ini antik, kataku. Tak seperti kebanyakan lelaki yang kukenal sebelumnya. Aku mengaguminya, kau tahu?
Suatu hari akan kukenalkan kau padanya. Pada tulisan lain.
-Begitu Dalamnya-
Aku tak pernah menyesali hadirmu. Tiga tahun dengan proses yang begitu hebat, tak mungkin bisa terhapus begitu cepat. Namun aku sudah meng-ikhlas-kanmu. Biarlah, ikatan ini sudah lepas.
-Hancur-
Nampaknya ada hati baru yang tengah aku jelajahi. Oh bukan menjelajahi. Berkenalan lebih tepatnya. Aku sedang berkenalan dengan hati baru, dengan banyaknya beda. Tentu ini tak mudah.
Tapi tidak akan secepat itu ku berikan hati. Sudah kucoba, tapi tak mampu. Kupastikan tak ada hati yang terluka lagi. Entah hatinya, pun hatiku. Luka yang kamu cipta belum mengering, apalagi hilang. Tentu aku tak ingin mencipta luka untuk diriku ataupun dirinya.
Lelaki ini antik, kataku. Tak seperti kebanyakan lelaki yang kukenal sebelumnya. Aku mengaguminya, kau tahu?
Suatu hari akan kukenalkan kau padanya. Pada tulisan lain.
Senin, 20 Januari 2020
Ada yang hilang dari jiwaku.
Semenjak kepergianmu hari itu, setiap pagiku tak lagi sama
Seperti ada yang direnggut pada jiwaku
Dunia telah merebut kamu dari pelukku
Ingin rasanya dicintai oleh kamu, walau hanya sekejap
Berada dipelukmu, dan tak akan kulepas
Seandainya semesta mengizinkan kamu untukku
Tak akan ada duka yang kamu rasa, percaya padaku
Aku akan menjaga dan mencintai kamu sepenuh hati
Jiwa dan ragaku milikku
Kini biarlah mimpi untuk bersamamu kusimpan dalam diri
Tak akan ada yang mengerti
Sekuat apapun aku menjelaskan
Sekuat apapun aku menginginkan kamu disini
Tak akan pernah ada yang mengerti
Betapa aku mencintaimu dengan sangat
Biarlah kamu kusimpan dalam hati terdalam
Barlah tulisan ini yang menjadi bukti
Bahwa ada hati yang tulus mencintamu
Walau dalam perih
Selasa, 07 Januari 2020
Kita Perlu Jeda
Berjalanlah semampu kita bisa. Membuktikan pada semesta bahwa aku mampu tanpamu. Kita perlu jeda untuk mengerti arti ketulusan. Pun tak usah saling mencari. Kini saatnya untuk melepas dan memaafkan. Kenanglah aku sebagai satu hati yang pernah disisi tanpa ragu. Menuangkan segala asa untuk bahagiamu.
Maafkan aku yang pernah egois untuk menahanmu tetap disisi. Namun sekuat apapun kuinginkan kamu disini, pada akhirnya pun aku menyerah. Kau bebas dengan duniamu. Kau berhak mencari bahagiamu. Namun tetaplah menjadi baik. Jangan kau hancur karena bahagia semu itu.
Aku selalu mendoa untuk segala baikmu. Tapi kau perlu ingat, bahwa tak segala bahagia adalah baik. Sampai jumpa kembali, bila semesta mengizinkan kamu denganku.
Sabtu, 23 November 2019
Sebelum Jauh
Terbuka begitu saja
Oleh suatu rasa yang harusnya tak ada
Harusnya aku tak begini
Namun seseorang itu berbeda
Ia miliki hati yang lebih luas dari yang kukenal
Ia miliki jiwa yang lembut
Tutur katanya menenangkan
Geriknya menyenangkan
Selalu menebarkan tawa
Mengorbankan segala asa
Mengorbankan dirinya
Ah namun cukuplah
Aku hanya kan mengagumi
Cukuplah begini
Aku miliki harap yang telah kurancang
Ia pun begitu
Hati kita milik yang lain
Tak kan ada rasa antara kita
Mencoba berhenti sebelum jauh
Karena kutahu akan menyakitkan
Dan kau pun menyakitkan
Aku tak ingin ada luka
Biarlah tetap begini
Berjarak saja
Tetaplah kamu mengagumkan
Tetaplah menebar tawa
Semoga kebaikan selalu bersamamu
Kumohon tetaplah berbahagia
Tertulis dengan iringan Aamiin Paling Serius, dini hari.
Sabtu, 31 Agustus 2019
Menjadi Bagian Mimpi
Aku ingat betul bagaimana sembilan Agustus menjadi saksi atas sebuah perjuangan. Bagaimana kamu secara tidak langsung memintaku untuk datang ke tempat dimana kamu akan dilepas pergi mendekati mimpi. Dimana hari itu seakan-akan mentari ikut mempersilahkanmu untuk melangkah menggapai mimpi. Dan untuk pertama kali aku menjadi perempuan terbahagia karena sudah diizinkan mengenal keluargamu dengan ketidaksengajaan. Terik Surabaya siang itu menjadi saksi bahwa ada perempuan yang sedang bersedih untuk sebuah kepergian.
Bersama orang tua dan keluargamu, aku mengantarkanmu ke gerbang ksatriaan. Semoga suatu saat tetap aku yang mendampingi segala keluh dan perjalanan panjangmu itu. Dan semoga empat tahun lagi tetap aku yang akan mengantarkanmu keluar gerbang ksatriaan menuju gerbang kehidupan yang lebih penuh tantangan. Namun tenang saja kita kan menghadapi tantangan-tantangan itu bersama, berdua. Aku yang tak akan meninggalkanmu walau hanya sekejap, dan kamu yang akan selalu ditemani oleh wanita sekeras aku dalam berjalan.
Setelah kepergianmu itu, aku menjadi wanita yang setiap hari cemas menunggu kabarmu. Tidak ada alat komunikasi yang kamu bawa. Dan sungguh itu sangat menyiksa hariku. Dua minggu berlalu dan tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh pesan singkat darimu. Dan setelah itu hampir setiap hari kamu dan aku saling berbagi kabar melalui percakapan singkat. Aku yang selalu antusias mendengar cerita kehidupanmu di asrama itu. Dan kamu yang selalu mengelak tatkala aku bilang rindu. Ah nampaknya terlalu indah untuk diceritakan.
Malam tigapuluh satu Agustus didalam kereta, percakapan singkat yang sangat menyentuh hati. Malam dimana keesokan hari adalah hari yang sangat menentukan. Pengumuman atas kerja kerasmu selama ini. Kamu memintaku memberikan kabar pengumuman esok kepada orang tuamu, dan aku yang membercandaimu bahwa aku kan mengenalkan diri sebagai calon menantu dari orang tuamu. Kamupun menertawai seperti biasa.
Malam itu, kamu dan aku saling memohon kepada sang Pencipta. Di waktu yang sama, namun ditempat dan keadaan yang berbeda. Merendahkan diri dihadapan Sang Kuasa, menyatukan doa yang sama. Aamiin paling serius.
Tigapuluh satu Agustus. Hari yang dinanti dengan penuh cemas. Sejak pagi aku sudah memantau sosial media dan web resmi itu. Namun belum saja ada kabar. Berjam jam aku menunggu dan mendoa sepanjang waktu. Dan sekitar pukul satu siang aku dikejutkan dengan pengumuman itu. Cepat-cepat aku membuka dan mencari namamu. Beku. Sungguh beku. Namamu terpajang dipengumuman itu sebagai salah satu CAPRA IPDN 2019 dari Jawa Timur. Alhamdulillah, MasyaAllah. Tak berhenti aku mengucapan syukur. Tangis sudah tak bisa diredam. Apresiasi luar biasa atas keberhasilanmu ini.
Mari kita melanjutkan mimpi besar ini. Aku dengan mimpiku, dan kamu dengan mimpimu. Kita kan selalu seperti ini, mendoa dan berjuang sepenuh hati. Dan sungguh, pada akhirnya mimpi terbesarku adalah menjadi bagian dari mimpimu. Dan pasti, aku selalu melibatkan kamu dalam setiap mimpiku.
Selasa, 13 Agustus 2019
Tentang Sebuah Keyakinan
Ini tentang keyakinan tentang kegoisan dan tentang ketidakberdayaan. Biarlah waktu yang menjawab. Kita berjalan semampu kita bisa.
Tiga tahun bukanlah waktu singkat untuk memperjuangkan rasa, menepis goda, mempertahankan ego dan keyakinan. Ini adalah sebuah keyakinan besar dimana harapan tertuju pada satu titik yang tak bisa digantikan dengan apapun. Namun keyakinan ini terlalu besar bila hanya dikalahkan oleh rasa sakit. Bertahan dalam kediaman adalah menyakitkan. Namun aku suka bila itu tentangmu.
Tiga tahun yang penuh liku. Hanya sapa dan tak ada obrolan. Kita sama sama diam. Entah aku yang pemalu atau memang kamu tidak peka. Selalu terngiang bahwa kamu terlalu baik untuk aku yang begini. Namun sungguh keyakinan dan rasa ini terlalu besar. Dan demi sebuah keegoisan untuk bersama, aku rela menunggu walau tanpa temu.
Dan tiga tahun rasanya terbayar sempurna dengan obrolan itu. Dan masih terngiang untuk pertama kali kita beradu cakap lewat telepon dini hari sebelum keberangkatanmu merantau. Diskusi tentang mimpi, harapan, dan sebuah komitmen.
Kita berdiskusi tentang harapan setelah lulus pendidikan. Kamu yang tak menginginkan pendamping hidupmu bekerja, dan aku yang kekeh untuk berkarya walau didalam rumah. Katamu wanita lebih baik dirumah saja, mengajar anak-anak mengaji, menjadi madrasah pertama dikehidupan anak-anak. Kataku, aku ingin berproses selama di ibukota ini. Aku ingin menjadi wanita seperti hakikat wanita sebenarnya. Namun tetap saja tak semua visi misi kita sama. Ada beberapa poin yang membedakan kita. Namun selalu saja aku meyakinkan diriku bahwa untuk bersama tak harus sama.
Dan masih teringat kamu dan aku berjanji akan berproses sebaik kita bisa. Menjadi wanita dan lelaki terbaik dalam porsi kita masing-masing. Kataku aku berjuang untukmu dan sampai waktu yang menjawab semua. Kita berjanji tak akan pernah menyesali pertemuan ini, perkenalan ini. Biarkan rasa ini yang menjadi saksi bahwa pernah ada seorang perempuan yang telah memperjuangkanmu sekeras ini.
Selagi kita mampu, mari berproses mari memperbaiki diri. Entah suatu saat kita kan bersama ataupun tidak. Namun semampuku kan berjuang demi keyakinan itu. Kita hanya terpaut jarak, tak masalah. Katamu, doa kan saja bila aku rindu. Kataku, aku selalu mendiskusikanmu dengan Sang Pencipta.
Aku ingat betul malam itu kamu berusaha menghiburku yang tengah bersedih karena melepasmu. Beratus kilometer dari tempatku berpijak. Dan tanpa media untuk komunikasi. Memang berat. Dan sungguh betapa tangis mengalir tatkala kamu memintaku menyanyikan sebuah lagu untukmu.
"Pergilah kasih kejarlah keinginanmu, selagi masih ada waktu. Jangan hiraukan diriku. Aku rela berpisah demi untuk dirimu. Semoga tercapai segala keinginanmu."
Air mata tumpah begitu saja. Mengalir begitu hebatnya. Malam itu, dengan alunan lagu Pergilah Kasih, Hanya Rindu, dan Cinta Luar Biasa.
Kepada tatap dan rasa itu semoga ada cahaya yang mengantar pada segala angan malam itu dengan berjuta harap tentang kebersamaan dan atas mimpi yang telah dirancang semoga kamu dan aku mampu berproses untuk satu cita kita.
keyakinan tentang kegoisan dan tentang ketidakberdayaan. Biarlah waktu yang menjawab. Kita berjalan semampu kita bisa.
Selasa, 16 Juli 2019
Pilihan Hati
Malam semakin larut, dan rindu semakin berdebar. Mengenang setiap detik yang bercerita tentang kita. Mengenang setiap sudut kota yang menjadi pijakan temu, antara kamu dan aku. Mengingat masa sekolah yang menjadi saksi kelucuan rasa. Mati rasa tatkala berjumpa, beku. Biasa saja, katamu. Namun sungguh saat itu kutak bisa. Dan mungkin hingga kini.
Seorang gadis delapan belas tahun yang sedang menghabiskan waktu malamnya untuk mengenang, dan mencinta. Berusaha selalu ada walau tak selalu disisi. Berusaha menemani walau terpaut jarak. Mendo'akan segala kebaikan untukmu. Lelaki yang sering ia jumpai setelah dhuha dimasjid sekolah. Namun kini tak ada temu seperti saat itu. Memelukmu dalam doa mungkin adalah cukup. Menyampaikan segala rasa dan rindu melalui tulisan adalah obat terbaik tatkala rindu bergejolak.
Beginilah cinta bekerja. Tak tahu waktu tak tahu aturan. Ia pikir mudah memendam rasa sendiri. Mencintai seseorang yang telah menitipkan hati pada hati lain. Berusaha menghapus lara sendiri. Ia tak pernah tahu, dan tak akan mau tahu.
Dengarkan aku sebentar saja.
Kamu adalah hadiah terindah yang Tuhan beri.
Betapa kehadiranmu telah merubah hidup seorang wanita sepertiku. Menjadi wanita yang selalu berusaha memperbaiki hati, memantaskan diri. Menjadi wanita kokoh yang bersikap keras dalam berjuang. Memperjuangkanmu apalagi. Tak peduli berapa sakit yang telah kau cipta. Tak peduli siapa yang kamu pilih untuk menitipkan hati. Percayalah, aku selalu ada untuk menjadi tempatmu pulang.
Ah namun cinta adalah pilihan. Dan aku tetap memilih disini. Dan kamu adalah pilihanku. Bagaimanapun keadaanmu, bagaimanapun hatimu, bagaimanapun rasamu padanya, aku tetap memilih kamu. Biar waktu yang menjawab. Biar waktu yang membuktikan betapa rasa ini sangat tulus. Tak akan ada cinta lain. Tak akan ada rasa lain. Percayalah. Karena kamu adalah jawaban atas segala doa. Semoga semesta selalu menjagamu. Sekali lagi, rasaku utuh untukmu.
Minggu, 07 Juli 2019
Mati Rasa Oleh Rasa yang Tak Pernah Hidup
Mencoba mencari celah agar sinar bisa menerangi
Mencoba mencari alasan tuk membuka mata dan hati
Memang belum saatnya ku berhenti
Memang sebuah keikhlasan sedang diuji
Meratap tangis sendiri disudut kamar ini
Inginku mengadu padamu
Betapa ketidak sengajaanmu telah membuat rapuh seorang wanita
Hari ini kau telah membuatku mati rasa
Tak ada tawa tak ada cahaya
Aku hanya butuh hadirmu untuk saat ini
Sekedar sapaan atau definisi rindu
Atau sekedar pengingat untuk berwudhu
Aku inginkan tanganmu menopang jatuhku kali ini
Aku inginkan telingamu untuk segala keluhku malam ini
Mungkin aku memang egois
Mengatakan ikhlas pada seluruh dunia
Namun dalam hati tak sanggup menerima lara
Kau pun tak perlu menerka
Mengapa malam ini aku berbeda
Tentu kau tahu jawabnya
Aku hanya sedang mengobati sendiri segala lara
Agar kamu tak kena imbasnya
Mungkin cukuplah sakit untuk hari ini
Agar kusegerakan pulih untukmu
Dan kembali mencintai dirimu, kembali
Langganan:
Postingan (Atom)

